• P#T

Begini Caraku Mengatasi Trauma Masa Kecilku, dan Kuharap Ini Dapat Membantumu

Updated: Jan 17, 2019

Pernahkah kau merasakan, ketika kau melepaskan bagian dari dirimu yang sudah begitu lama terpendam, pikiranmu seakan-akan menjadi seringan udara? Ketika temanku Raisa (pendiri gerakan P#T di Indonesia) membuka diri, aku sungguh memahami apa yang ia rasakan lewat ceritanya. Kini, sudah tiba waktunya bagiku untuk melakukan hal yang sama—untuk membagikan kisahku dengan orang banyak dan menginspirasi mereka. Aku sangat bangga karena bisa berbagi melalui situs ini.

Kisahku ini adalah sebuah hadiah kedamaian untuk diriku sendiri dan untuk kalian semua pada perayaan Natal tahun ini. (English Version Here)

OLEH LIM SHIN

DITERJEMAHKAN OLEH VITA KARTIKA


Permulaan: Sebuah Insiden

Kembali pada seorang gadis lugu berusia 8 tahun yang duduk di kelas 2 SD.


Ia belum memahami dualitas yang dimiliki manusia.


Ia, bagaimanapun, sudah memiliki sensitivitas, meskipun ia hanyalah anak-anak. Indra keenamnya dan tubuhnya (ya, tubuh kita memang tidak pernah berbohong) mengirimkan sinyal bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Tetapi pada saat itu, ia tidak tahu bagaimana harus bereaksi atau menanggapi.

Ketika ia mengajak pamannya untuk bermain—seorang lelaki dewasa yang menyenangkan dan ramah, yang senang menggelitik punggung keponakannya dan memberinya gendongan di pundak—ia tidak mengira bahwa ajakan polos untuk bermain dari seorang anak-anak dapat menggugah hasrat seksualnya. Gelitikan itu menjalar dari betis ke paha bagian dalam; menyebabkan terjadinya kontak genital dan sentuhan tiada henti selama kurang lebih setengah jam berselang.

Tawa kanak-kanak yang penuh sukacita perlahan berubah jadi kekakuan yang tidak nyaman.


Pamannya memasuki apartemen dengan kunci-kunci yang diperoleh dari neneknya. Ia bermaksud mengambil barang yang tertinggal. Niat itu seketika berubah ketika kesempatan untuk melakukan tindakan itu muncul dengan sendirinya pada waktu yang tepat—dengan kemungkinan yang amat rendah untuk ketahuan.


Ketika neneknya akhirnya pulang dan terdengar suara gemerincing dari gerbang, pamannya dengan segera berhenti. Ia memberinya tatapan yang canggung dan serius. Tatapannya terlihat sedikit takut, namun lebih banyak mengancam. Tatapan yang menyiratkan pesan padanya untuk diam. Untuk menutup mulutnya, selama yang ia bisa.


Ia adalah aku.

Ia juga bisa saja adalah kamu, atau siapapun di luar sana.

Kamu tidak sendirian dalam hal ini.



Aku Berusaha Mengabaikannya dengan Berbagai Tujuan Hidup yang Kumiliki, tetapi Pada Akhirnya, Aku Tersadar Bahwa Pengalaman Buruk Juga Punya Andil dalam Memberikan Pelajaran tentang Kehidupan

Ya, hal ini terjadi padaku. Dan dengan bangga aku menyatakan bahwa aku senang bisa membagikan pengalamanku di sini—setelah aku berbincang dengan Raisa.


Secara hukum, istilah dan tindakan ‘Sexual Molestation’ diakui sebagai sebuah kejahatan, di mana sejumlah lembaga profesional tertentu saat ini mengklasifikasikannya dalam 'Sexual Abuse' (dalam penerjemahan dari kamus standar, frasa ini memiliki konotasi yang lebih kompleks).

Aku tak pernah membahas tentang hal ini selama lima belas tahun lamanya karena berbagai alasan, salah satunya adalah karena aku tidak ingin merusak hubungan keluarga dan karena aku takut dihakimi secara menyakitkan.

Selama itu, aku berusaha bertingkah laku senormal mungkin, seakan-akan hal mengerikan itu tidak pernah terjadi. Ingatan itu terpendam seiring aku tumbuh dewasa. Kurasa, insiden itu tidak berdampak apa-apa padaku, selain menjadikan mentalku lebih kuat sebagai seorang perempuan yang mandiri. Aku tak pernah membiarkan diriku menjadi rentan. Aku percaya bahwa aku baik-baik saja.


Selama tahun-tahun itu, kepribadianku dipenuhi dengan ambisi dan rasa kompetitif untuk menguasai berbagai aspek yang kugeluti—untuk menjadi sukses. Kurasa ini dampak yang alamiah dari segala perlindungan diri yang kumiliki.


Ambisi tersebut menyembunyikan jiwaku yang terluka dan menutupi trauma pada alam bawah sadarku—sebuah trauma yang tak disadari oleh siapapun, bahkan olehku sendiri.


Aku mulai memahami kondisiku ketika aku sudah memasuki bangku perkuliahan. Aku sadar bahwa aku tidak pernah merasa sepenuhnya nyaman ketika berada sendirian dengan laki-laki di ruangan yang sama—bahkan ketika laki-laki tersebut adalah teman dekatku.

Sebagai seseorang yang selalu melakukan refleksi diri dan kontemplasi, tiap harinya aku mengamati sembari mengajukan pertanyaan pada diriku sendiri; agar aku dapat menjadi versi diriku yang lebih baik daripada versi diriku yang sebelumnya.

Dan begitulah aku memahami sesuatu tentang diriku: Aku tak pernah menyadari bahwa sesuatu yang kusembunyikan dalam-dalam bertahun-tahun yang lalu ternyata masih sangat mempengaruhiku pada tingkat yang sebegitu dalamnya hingga hampir tak kentara. Hal ini mengejutkanku. Momen inilah yang menjadi titik balik dari perjalanan progresifku. Tujuh tahun lamanya aku melakukan eksplorasi diri. Sebuah penyembuhan yang akan mengubah perspektif hidupku selamanya. Aku siap mengakui ingatan itu. Aku siap menerima pengalaman hidupku.



Reiki: Bagaimana Aku Memulai Perjalanan Penyembuhan Itu

Kejadian itu membuatku seketika menjadi lebih bijaksana. Pengalaman itu membuat aku melihat dengan jelas aspek-aspek kemanusiaan yang jauh dari dunia ‘unicorn’ yang kukenal ketika masih hidup sebagai anak-anak. Ketika ada putih, pasti ada hitam. Ketika ada yang baik, pasti ada yang buruk. Dalam hidup ini, dualitas adalah salah satu hukum alam semesta yang tidak dapat disangkal.


Reiki memegang peranan yang paling utama dalam perjalanan penyembuhanku untuk berdamai dengan masa lalu.


Ketika mempelajari Reiki, aku dituntun oleh para malaikat, pembimbing, bagian dari diriku yang lebih mulia, kebijaksanaan batinku, atau bagaimanapun kau menyebutnya, terlepas dari apa agama dan kepercayaannya. Sejak aku mendaftar Reiki, dengan seketika aku yakin bahwa aku akan terus melakukan hal ini dalam jangka waktu yang lama—untuk kebaikan diriku sendiri, maupun bagi dunia.


Reiki menyediakan penyembuhan yang aman, non-invasif, dan non-intrusif bagiku—sesuatu yang aku butuhkan pada tingkat holistik yang mendalam. Reiki sangat pribadi dan personal (Jika kamu melakukannya, sangat mungkin kamu akan memperoleh kesan yang berbeda denganku; setiap pengalaman Reiki adalah hal yang unik). Dengan Reiki, tidak ada yang menghakimiku, tidak ada yang menyebutku 'sakit'.

Tanpa mengetahui alasan pastinya, hatiku perlahan-lahan melepaskan beban yang sudah kupikul selama beberapa dekade lamanya; melepaskan trauma yang sudah kupendam selama bertahun-tahun lamanya. Aku memahami bahwa beban yang sudah terakumulasi itu tidak akan begitu saja lenyap dalam satu hari—dibutuhkan waktu yang tak sebentar untuk mendorong diriku dengan lembut untuk melepaskan, merelakan, dan menemukan kembali kebijaksanaan dan kedamaian batinku.


Setiap langkah yang kuambil adalah keputusan yang kubuat atas kemauanku sendiri. Bahkan jika aku diminta untuk kembali, aku yakin aku tidak akan membuat pilihan yang berbeda.


Dengan sendirinya, setiap langkah dalam kehidupan kita sesungguhnya adalah pertumbuhan dan pelajaran. Maka kumohon padamu untuk menghargai setiap langkahmu, untuk tidak pernah menyesali keputusan yang kau ambil, untuk merayakan kehidupanmu di dunia ini, dan yang terpenting, untuk sepenuhnya mencintai dirimu sendiri. Kita semua layak mendapatkan hal-hal yang baik. Hanya dengan demikian, kita dapat mulai mencintai orang lain dan seisi dunia.


Segala perjalanan dimulai dari dalam diri. Maka biarkan dirimu berkembang, berilah kesempatan pada dirimu untuk memegang kendali atas hidup. Milikilah kepercayaan pada dirimu, dan milikilah keyakinan pada yang Agung. Bahwa jalanmu dipenuhi tantangan karena kamu memiliki kemampuan untuk mengatasi dan melaluinya.


Terakhir dan terpenting, pahamilah bahwa kamu tidak harus berjuang sendirian. Temukan dukungan, baik melalui Tuhan, Semesta, para malaikat, para pembimbing, teman dekat, keluarga, atau bahkan kelompok eksternal. Aku amat bersyukur, karena pengalaman di masa laluku inilah yang membentuk diriku sebagaimana aku sekarang.

Apapun jenis kelaminmu, etnismu, agamamu, latar belakang kehidupanmu, atau apapun yang telah kamu lalui dalam hidupmu, buatlah komitmen untuk dirimu sendiri; bahwa kamu akan menjalani hidupmu dengan baik.


Keindahan dalam hidup dapat dengan mudah dikaburkan oleh pikiran yang tercemar dan hati yang terluka. Ketika segala hal terasa sulit dan menyesakkan, cobalah untuk melakukan perjalanan melampaui kelima indramu. Tutup kedua matamu, redam telingamu. Suara, kata, dan rasa menghilang. Tiada lagi penghakiman.

Ketika kamu membuka mata dan indramu kembali berfungsi, kamu akan bisa menghadapi hidup dengan lebih jelas. Semakin berani dan semakin cepat kamu menghadapi iblis-iblis dalam hidupmu, maka semakin cepat mereka akan lenyap darimu dan semakin bersih pula hidupmu.


Jika kamu masih penasaran dengan apa yang terjadi selanjutnya dalam kisahku, kini sudah tak penting lagi bagiku untuk melakukan konfrontasi padanya. Aku telah berhasil mendapatkan hal yang lebih penting; yakni pengampunan dan kedamaian diri. Kini, melalui tulisan ini, aku hendak menyalurkan karunia ini padamu.



Penutup: Sebuah Kisah yang Berakhir Damai

Mungkin bagi sebagian orang, pengalaman kita tak berarti apa-apa. Mereka dapat menambah beban pada pikulan yang sudah berat dalam hidup kita. Dengan tekanan yang sedemikian rupa, kita seringkali tertunduk dalam rasa menyerah dan memilih jalan keluar yang terlihat mudah. Hal ini terwujud dalam berbagai tekanan mental dan emosional, yang bisa merambah penyakit fisik, atau dalam kasus ekstrim, dapat menyebabkan depresi berat dan bunuh diri. Bagaimanapun, percayalah, melarikan diri tidak dapat mengakhiri penderitaan.


Melarikan diri hanya menyembunyikan penderitaan secara sementara. Beban itu justru akan terus bertambah dan berlanjut seiring dengan fase kehidupan yang kamu lalui. Melarikan diri bukanlah solusi. Menghadapinya adalah satu-satunya cara untuk menyelesaikannya.


Hiduplah dan bergeraklah. Majulah. Berproseslah. Kehidupan tidak hanya tinggal diam di masa lalu; kehidupan terlahir kembali bersama matahari di setiap pagi, di setiap hari.


Aku berdoa agar kalian dapat melampaui rintangan dalam hidup kalian sendiri, agar kemudian, kalian dapat menginspirasi orang lain untuk melakukan hal yang sama; membuat keputusan dalam hidup dengan kejernihan, kebijaksanaan, dan cinta.


Dengan berani aku telah berhasil menghadapi tantangan dalam hidupku. Aku percaya kalian memiliki keberanian yang sama. Melalui kisah ini, aku mendorong kalian untuk memiliki keberanian yang sama.


Aku berharap cerita ini dapat mengilhami penyembuhan dalam diri kalian. Aku berharap kalian dapat melihat dan menemukan kembali kebijaksanaan dan kedamaian yang sedari dulu telah bersemayam pada diri kalian, bahkan ketika kalian tidak pernah tahu bahwa kalian memilikinya.


"Mungkin ironi terbesar dalam penyembuhan adalah bahwa penyembuhan dapat terjadi ketika kita sepenuhnya berlapang dada menerima pengalaman yang kita rasakan, alih-alih berfokus dan berusaha keras untuk menyingkirkannya." —Josh Korda

Tentang Penulis

Lim Shin adalah seorang ‘tabib’ milenial yang inspiratif. Ia adalah seorang guru spiritual dan Reiki yang berbasis di Singapura. Ia mendorong mereka yang ingin membuat perbedaan dalam hidup melalui penyembuhan diri dan praktik perawatan diri sehari-hari. Ia adalah seorang Analis Bisnis di salah satu perusahaan Fortune 500 terbaik sebelum ia memutuskan untuk menjadi guru sepenuhnya. Sebagai seorang guru, Shin mengajak murid-muridnya untuk mempelajari latihan Reiki di lingkungan yang aman, agar mereka dapat memperoleh kesan dalam perjalanan masing-masing. Ia juga adalah seorang psychic dan medium. Shin berusia 27 tahun saat tulisan ini dibuat.


Hubungi ia secara pribadi jika kau ingin berbicara langsung dengannya.

Lebih lanjut tentang Shin: https://www.limshinreiki.com/about

Sesi Penyembuhan Pribadi (di Singapura): https://www.limshinreiki.com/private

Pelajari tentang Reiki: https://www.limshinreiki.com/reiki-1



Informasi lebih lanjut: Bisakah penyembuhan Reiki membantuku atau anakku?


Reiki adalah latihan spiritual yang dengan lembut mendorong sistem kita menuju keseimbangan; penyembuhan yang utuh akan muncul dari dalam ketika sistem saraf kita seimbang. Dengan bergerak menuju keseimbangan, Reiki dapat membantu kita dalam situasi atau tantangan apapun, bahkan ketika itu bukan satu-satunya bantuan atau dukungan yang kita butuhkan. Reiki adalah praktik non-invasif tanpa obat-obatan yang mengutamakan kesehatan. Reiki membantu kita menyingkirkan ketidaknyamanan dan membuat tubuh dapat berfungsi dengan lebih baik. Reiki aman untuk dilakukan, dan tidak akan mengganggu segala bentuk perawatan medis yang kami terima.


Baca lebih lanjut di sini: https://www.limshinreiki.com/what-is-reiki

This site was designed with the
.com
website builder. Create your website today.
Start Now